Pendahuluan
Dalam rekomendasi point lima Hasil Paripurna hak anget Bank Century, DPR merekemondasikan pemerintah harus menyelesaikan permasalahan yang menimpa nasabah PT Antaboga Delta Sekuritas dengan mengajukan kepada DPR pola penyelesaian secara menyeluruh, baik dasar hukum, dan sumber pembiayaan sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Hal ini menjadi salah satu rekomendasi DPR karena sesuai dengan keterangan LPS, nasabah dan manajemen bank Century produk PT Antaboga dijual oleh Bank Century.
Dari hal tersebut, mengenai pengembalian dana nasabah Antaboga, pemerintah menawarkan dua opsi. Diganti melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau dari hasil pemulihan aset yang diambil secara tidak sah oleh menajemen dan pemilik Bank Century.
Kontradiksi dan Solusi
DPR meminta pemerintah menyelesaikan permasalahan nasabah Antaboga yang nilainya mencapai Rp1,3 triliun. Adapun pola, dasar hukum dan sumber pembiayaannya, pemerintah diminta untuk mengajukan ke DPR untuk disetujui.
Melalui rekomendasi ini, memang terlihat DPR merekomendasikan untuk mengucurkan “bailout” bagi nasabah Antaboga. Dan pemerintah harus mampu untuk mencari solusinya. Ini terlihat kontradiksi. Pada satu sisi DPR menggugat pengucuran bailout sebesar Rp6,7 triliun oleh pemerintah atas Bank Century. Namun di sisi lain, para wakil rakyat itu justru menerbitkan bailout baru untuk nasabah Antaboga. Namun, inilah bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan oleh pemerintah dan atau BI sesuai dengan fakta hasil rumusan hak angket DPR.
Dari kontradiksi tersebut, kini Masalah penyelesaian kasus investor An¬ta¬boga menjadi tanggung jawab Lem¬baga Penjaminan Simpanan (LPS) dan Kementerian Keuang¬an, karena manajemen Bank Mutiara (bank Century) harus fokus pada pemulihan dan peningkatan kinerja Bank Mutiara.
Pertanggungjawaban LPS, hal ini berdasarkan fakta yang ada dengan pengambilalihan Bank Century oleh LPS, maka hak dan kewajiban pengembalian dana nasabah beralih kepada pengambil alih, yakni LPS. LPS harus mampu mencari solusi mengembalikan kerugian kepada para konsumen yang telah dirugikan. hal itu berdasarkan putusan hukum Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Nomor 15/abs/BPSK-Yk/VIII/2003, tanggal 8 Agustus 2009 tentang Perlindungan Konsumen.
Mengenai solusi pengembalian dana nasabah yang diajukan pemerintah, dua opsinya yaitu Diganti lewat dana dari APBN atau menunggu pemulihan aset yang diambil secara ilegal oleh manajemen dan pemilik Bank Century.
Rekomendasi untuk mengganti uang nasabah Antaboga ini tentu menimbulkan kerepotan bagi pemerintah. Dasar hukum apa yang akan dipergunakan untuk mengganti uang nasabah Antaboga? Dari mana sumber dana pemerintah untuk mengganti uang itu?
jika diganti melalui APBN, tentu pemerintah harus memasukkannya dalam anggaran dan kemudian membawanya ke DPR untuk dimintakan persetujuan. Post Anggaran mana yang akan digunakan? Ini akan menimbulkan kerugian baru bagi negara. Kedepan, kondisi yang demikian akan melahirkan sebuah yurisprudensi modus baru bagi pemilik, penguasa perbankan untuk melakukan tindak kejahatan. Dan juga akan membuat nasabah perusahaan sekuritas lainnya seperti Optima dan Sarijaya menuntut penyelesaian serupa kepada pemerintah.
Menunggu pemulihan aset yang dicuri, memang akan memakan waktu yang relatif lama. Artinya, nasabah Antaboga harus bersabar lebih lama. Namun, Sumber dana melalui pemulihan asset bank century ini harus ada upaya percepatan dan ini merupakan cerminan sejauh mana keseriusan pemerintah dalam menjalankan rekomendasi DPR. Sebenarnya asset yang dimiliki oleh pemilik lama Bank Century yang bisa disita itu sebanyak Rp 13 triliun.
untuk memudahkan pengejaran aset ini dibutuhkan audit forensik. Supaya ketahuan aliran dana PMS dan FPJP (bailout century) lari ke luar negeri. Selain mengejar aset, polisi juga perlu untuk menangkap Hesyam dan Rafaat. Karena jika tertangkap, maka pengejaran aset lebih mudah dilakukan.
Namun, sampai saat ini perlu dipertanyakan kepada pemerintah melalui DPR, sejauh mana usaha pemerintah untuk mengembalikan aset Bank Century yang digelapkan oleh para pemiliknya ?
Penutup
Dari permasalahan yang diungkapkan di atas, DPR harus mendesak pemerintah segera melakukan percepatan atas pengembalian asset pemilik Bank Century dengan berbagai cara sesuai dengan undang-undang yang berlaku dan berkoordinasi dengan Tim pengawas dari DPR agar percepatan itu bisa dilakukan. Sehingga nasabah Antaboga/Century memiliki kepastian dalam pengembalian dana mereka yang digelapkan oleh pemilik century.
Selasa, 07 Desember 2010
Minggu, 28 November 2010
IPO Krakatau Steel dan Transparansi Informasi
Initial Public Offering Krakatau Steel tentunya sampai saat ini menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab yang dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga sampai saat ini masyarakat masih banyak
Sabtu, 02 Oktober 2010
belajar berbakti dari si bungsu
Di akhir ramadhan lalu, setelah menyelesaikan semua tugas yang ku dapat, akhirnya ku memberanikan diri untuk izin pulang ke rumah menemui keluarga. karena hampir jarang sekali selain di waktu libur panjang keluarga kami dapat berkumpul. hampir hanya pada acara-acara besar keluarga ataupun kegiatan sereminial lainnya yang mengharuskan kami berkumpul.
aku sendiri sehari-hari masih menjalankan kewajibanku untuk menuntut ilmu sampai selesai, namun hingga kini kegiatan itu pun belum selesai sehingga orang tua ku pun belum meminta untuk pulang kembali ke rumah sejak tahun 1997 lalu. begitu juga keluargaku yang lainnya hampir seluruhnya dalam masa belajar, ada yang menuntut ilu di daerah bandung, cianjur, kota bogor dan beberapa daerah lainnya.
di rumahku hanya ada adik bungsu ku yang selalu menemani atau ditemani oleh orang tuaku sehingga terkadang celoteh si bungsu yang membuat kami rindu.
sempat ku meminta agar ibuku juga mengizinkan si bungsu untuk menuntut ilmu jauh dari rumah sebagaimana apa yang kami lakukan. namun, itu belum sempat dikabulkan karena ibuku sendiri ingin ditemani si bungsu.
terkadang si bungsu selalu menjadi wasilah kami untuk berkomunikasi dengan keluarga di rumah. ataupun menanyakan kabar keluarga di rumah.
ketika menjelang akhir ramadhan, kami bersepakat untuk menanyakan oleh-oleh ataupun hadiah apa yang dia inginkan sebagai penghargaannya telah menyelesaikan ibadah ramadhannya untuk berpuasa selama satu bulan penuh.
"aku menawarkan pakaian baru yang ingin dia kenakan ketika idul fitri tiba" begitu juga kakakku yang lainnya menawarkan hal yang sama.
namun entah secara kebetulan atau tidak jawaban yang tidak seperti biasanya dia berikan di tahun-tahun sebelumnya.
"simpan saja uangnya, aku hanya ingin agar keluarga berkumpul serta mengajak mamah (ibu) dan nenek agar bisa berlibur bersama"
itula jawaban si bungsu
aku sendiri sehari-hari masih menjalankan kewajibanku untuk menuntut ilmu sampai selesai, namun hingga kini kegiatan itu pun belum selesai sehingga orang tua ku pun belum meminta untuk pulang kembali ke rumah sejak tahun 1997 lalu. begitu juga keluargaku yang lainnya hampir seluruhnya dalam masa belajar, ada yang menuntut ilu di daerah bandung, cianjur, kota bogor dan beberapa daerah lainnya.
di rumahku hanya ada adik bungsu ku yang selalu menemani atau ditemani oleh orang tuaku sehingga terkadang celoteh si bungsu yang membuat kami rindu.
sempat ku meminta agar ibuku juga mengizinkan si bungsu untuk menuntut ilmu jauh dari rumah sebagaimana apa yang kami lakukan. namun, itu belum sempat dikabulkan karena ibuku sendiri ingin ditemani si bungsu.
terkadang si bungsu selalu menjadi wasilah kami untuk berkomunikasi dengan keluarga di rumah. ataupun menanyakan kabar keluarga di rumah.
ketika menjelang akhir ramadhan, kami bersepakat untuk menanyakan oleh-oleh ataupun hadiah apa yang dia inginkan sebagai penghargaannya telah menyelesaikan ibadah ramadhannya untuk berpuasa selama satu bulan penuh.
"aku menawarkan pakaian baru yang ingin dia kenakan ketika idul fitri tiba" begitu juga kakakku yang lainnya menawarkan hal yang sama.
namun entah secara kebetulan atau tidak jawaban yang tidak seperti biasanya dia berikan di tahun-tahun sebelumnya.
"simpan saja uangnya, aku hanya ingin agar keluarga berkumpul serta mengajak mamah (ibu) dan nenek agar bisa berlibur bersama"
itula jawaban si bungsu
Selasa, 01 Juni 2010
Kesederhanaan dan Do'a
Siang itu, dering hp ku terus berbunyi sebanyak tiga kali, ketika ku hampiri ternyata adikku si bungsu mencoba mengkontakku.
mungkin ada keinginannya yang bisa ku bantu" terbesit dalam hatiku.
setelah tidak berdering, lalu ku coba untuk menghubunginya secara langsung, dan ternyata suara salam yang menjawab bukanlah adiku si bungsu, melainkan ibuku yang tentunya sudah ke hafal suara pada kata pertamanya.
"lagi sibuk gak..? Kapan mau pulang..?? " tanya ibuku setelah menjawab salamku.
Insya alloh kapanpun kalau dipinta pulang, akan langsung meluncur ke rumah" jawabku
baiklah.. pulang hari ini yah dan langsung meluncur ke rumah sakit, karena kakakmu dirawat di rumah sakit sejak tadi pagi" pinta ibuku dengan tegas.
Tanpa meminta waktu yang terlalu lama untuk mempersiapkan diri, akhirnya aku bergegas pulang dan menjenguk kakakku di rumah sakit.
Selama perjalanan ku selalu berdo'a dan berharap Allah selalu melindungi keluargaku dalam setiap cobaan yang diberikan Allah kepada kami.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung bergegas masuk ke salah satu ruang rawat inap tempat kakakku dirawat. di sana ku lihat Ibuku dengan setia menunggu dan merawat kakakku yang sedang terbaring di tempat tidur.
Ku salami dan ku cium tangan ibuku sambil membisikkan do'a dan harapan agar selalu bersabar apapun cobaan yang diberikan Allah kepada kami.
Ku lihat raut ketabahan yang ditunjukkan ibuku ketika menunggu sambil berdoa
mungkin ada keinginannya yang bisa ku bantu" terbesit dalam hatiku.
setelah tidak berdering, lalu ku coba untuk menghubunginya secara langsung, dan ternyata suara salam yang menjawab bukanlah adiku si bungsu, melainkan ibuku yang tentunya sudah ke hafal suara pada kata pertamanya.
"lagi sibuk gak..? Kapan mau pulang..?? " tanya ibuku setelah menjawab salamku.
Insya alloh kapanpun kalau dipinta pulang, akan langsung meluncur ke rumah" jawabku
baiklah.. pulang hari ini yah dan langsung meluncur ke rumah sakit, karena kakakmu dirawat di rumah sakit sejak tadi pagi" pinta ibuku dengan tegas.
Tanpa meminta waktu yang terlalu lama untuk mempersiapkan diri, akhirnya aku bergegas pulang dan menjenguk kakakku di rumah sakit.
Selama perjalanan ku selalu berdo'a dan berharap Allah selalu melindungi keluargaku dalam setiap cobaan yang diberikan Allah kepada kami.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung bergegas masuk ke salah satu ruang rawat inap tempat kakakku dirawat. di sana ku lihat Ibuku dengan setia menunggu dan merawat kakakku yang sedang terbaring di tempat tidur.
Ku salami dan ku cium tangan ibuku sambil membisikkan do'a dan harapan agar selalu bersabar apapun cobaan yang diberikan Allah kepada kami.
Ku lihat raut ketabahan yang ditunjukkan ibuku ketika menunggu sambil berdoa
Senin, 10 Mei 2010
Birokrasi yang Masih Rumit
Persiapan hari ini, harus ku percepat lebih pagi, sehingga semua tujuan ku yang sudah ku rencanakan semoga terselesaikan sesuai dengan keinginan.
Tepat jam tujuh pagi aku dan ust. fauzi ba'ats berangkat bersama tiga orang santri ke tujuan pertama di jadwal kegiatanku hari ini, yaitu melakukan presentasi tentang Pesantren Modern Daarul Uluum di SDN Bojongkulur 03 Gunung Putri Bogor.
Selama perjalanan menuju Bojongkulur, Ustadz Fauzi Baats menambahkan jadwal hari ini dengan menjemput Mataharitimoer dan Istrinya dr. Suharti di Daerah Pondok Kopi Jakarta Timur. "Tepat sekali kita berangkat pagi-pagi" jawabku pada Ust. Fauzi Baats.

Sesampainya di SDN Bojongkulur 03, ku meminta izin kepada Kepala Sekolah agar santri kami diizinkan untuk mengadakan presentasi kepada Siswa kelas 06 di SD yang beliau pimpin, dan dengan senang hati kepala sekolah mempersilahkan santri untuk melakukan presentasi.
Presentasi pun berjalan dengan baik, sehingga antusiasme peserta yang mengikuti kusaksikan sendiri dengan baik. Ternyata program presentasi ini memang benar-benar membuat santri terlihat lebih percaya diri dalam berbicara di depan banyak orang, dan aku anggap tugas pertama pada hari ini berjalan dengan baik dan lancar, sehingga kuakhir presentasi pada hari tersebut dengan meminta izin kepada kepala sekolah dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami.
Sudah ku tandai jadwal pertama di hari ini dan selanjutnya menuju perjalan kedua yaitu mengurus surat izin belajar untuk salah satu santri Pesantren Daarul Uluum yang belajar dari Singapura.
Dengan berbekal keterangan dari imigrasi yang memintaku segera membuat surat izin belajar, agar aku tidak bolak-balik ke kantor Imigrasi.
Sekitar satu jam perjalanan dari daerah bojong kulur aku berangkat menuju Kantor Pusat Kementerian pendidikan Nasional, yang berada di jalan Jenderal Sudirman Senayan jakarta. Sesampainya di sana, aku langsung bergegas ke Sekretariat Jenderal Kementrian dengan mengutarakan maksudku untuk mengurus surat izin belajar dari kementerian pendidkan sebagai salah satu syarat memperoleh Kartu Izin Tingggal Sementara bagi santri Pesantren yang berasal dari singapura. Namun, setelah keinginan ku tersebut ku utarakan, namun pihak sekretariat jenderal tidak bisa mengabulkan permohonanku karena sekolah atau pesantren yang kami kelola bukan di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional.
Tepat jam tujuh pagi aku dan ust. fauzi ba'ats berangkat bersama tiga orang santri ke tujuan pertama di jadwal kegiatanku hari ini, yaitu melakukan presentasi tentang Pesantren Modern Daarul Uluum di SDN Bojongkulur 03 Gunung Putri Bogor.
Selama perjalanan menuju Bojongkulur, Ustadz Fauzi Baats menambahkan jadwal hari ini dengan menjemput Mataharitimoer dan Istrinya dr. Suharti di Daerah Pondok Kopi Jakarta Timur. "Tepat sekali kita berangkat pagi-pagi" jawabku pada Ust. Fauzi Baats.
Sesampainya di SDN Bojongkulur 03, ku meminta izin kepada Kepala Sekolah agar santri kami diizinkan untuk mengadakan presentasi kepada Siswa kelas 06 di SD yang beliau pimpin, dan dengan senang hati kepala sekolah mempersilahkan santri untuk melakukan presentasi.
Presentasi pun berjalan dengan baik, sehingga antusiasme peserta yang mengikuti kusaksikan sendiri dengan baik. Ternyata program presentasi ini memang benar-benar membuat santri terlihat lebih percaya diri dalam berbicara di depan banyak orang, dan aku anggap tugas pertama pada hari ini berjalan dengan baik dan lancar, sehingga kuakhir presentasi pada hari tersebut dengan meminta izin kepada kepala sekolah dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami.
Sudah ku tandai jadwal pertama di hari ini dan selanjutnya menuju perjalan kedua yaitu mengurus surat izin belajar untuk salah satu santri Pesantren Daarul Uluum yang belajar dari Singapura.
Dengan berbekal keterangan dari imigrasi yang memintaku segera membuat surat izin belajar, agar aku tidak bolak-balik ke kantor Imigrasi.
Sekitar satu jam perjalanan dari daerah bojong kulur aku berangkat menuju Kantor Pusat Kementerian pendidikan Nasional, yang berada di jalan Jenderal Sudirman Senayan jakarta. Sesampainya di sana, aku langsung bergegas ke Sekretariat Jenderal Kementrian dengan mengutarakan maksudku untuk mengurus surat izin belajar dari kementerian pendidkan sebagai salah satu syarat memperoleh Kartu Izin Tingggal Sementara bagi santri Pesantren yang berasal dari singapura. Namun, setelah keinginan ku tersebut ku utarakan, namun pihak sekretariat jenderal tidak bisa mengabulkan permohonanku karena sekolah atau pesantren yang kami kelola bukan di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional.
Padahal sudah kuutarakan semuanya bahwa Kantor keimigrasian Bogor hanya mau menerima surat izin belajar dari kementerian pendidikan nasional bukan dari Departemen Agama.
mengikuti saran staff Setjen KEMENDIKNAS, aku langsung bergegas menuju Kementerian Agama, untuk meneruskan niatku membuat surat keterangan izin belajar bagi santri asing di pesantren.
Sekitar empat puluh menit perjalan ke Kementerian Agama aku tempuh menggunakan mobil dinas pesantren didampingi ustadz Fauzi Baats sebagai good driver yang selalu mengetahui seluk beluk jalan jakarta sekaligus mudah lupa akan pengetahuannya tersebut.
Kutanyakan pada satpam kementerian agama Islam, perihal kentor Ditjen Pendidikan Islam di Kementerian Agama yang menaungi pesantren dan madrasah di Indonesia. Sesampainya di Ruang tata usaha Setjen Pendidikan Islam, yang ku temukan adalah sekumpulan meja yang berserakan di atasnya tumpukan arsip yang dimiliki oleh masing-masing pegawai.
Ku duduk di tengah ruang Tata Usaha Ditjen Pendidikan Islam, sambil menaruh tasku di atas kursi, aku menyapa seorang staff di Tata Usaha sambil menyampaikan maksudku untuk membuat Surat Keterangan Izin Belajar agar santri dari Singapura yang belajar di Pesantren Modern Daarul Uluum bisa mendapatkan visa pelajar.
Lalu, staff tersebut segera mencari berkas yang dibutuhkan dalam membuat surat tersebut, namun tak kunjung dia dapatkan, setelah akhirnya dia mendapatkan secarik kertas yang tertempel di salah satu lemari berkas arsip kantor.
Hmm.... ternyata suatu suasana yang cukup berbeda antara pelayanan administasi di KEMENDIKNAS dengan di KEMENAG, ketika di kemendiknas aku langsung mendapatkan pelayanan dan keterangan yang cukup ditambah brosur dan famplet yang terpampang jelas mengenai syarat pelayanan surat izin belajar.
Namun, di KEMENAG aku mendapati untuk urusan tersebut harus mencopot sebuah pengumuman yang tertempel di lemari arsip kemudian harus ku photo copy.
Dengan perasaan menyesal, aku pun mengikuti apa yang menjadi keinginan mereka untuk melengkapi segala persyaratan yang dibutuhkan dalam mendapatkan surat keterangan izin belajar.
Akhirnya aku pulang dengan tidak membawa hasil yang aku harapkan dalam mendapatkan surat keterangan izin belajar. Birokrasi yang segemuk Kementerian, masih belum bisa mengcover secara efektif dalam mendapatkan Surat Keterangan Izin Belajar.
Semoga perbaikan terus bisa dijalankan oleh pemerintah kita, sehingga segala hal yang rumit apabila bisa dijalankan dengan efektif janganlah dipersulit.
Birokrasi yang Masih Rumit
Persiapan hari ini, harus ku percepat lebih pagi, sehingga semua tujuan ku yang sudah ku rencanakan semoga terselesaikan sesuai dengan keinginan.
Tepat jam tujuh pagi aku dan ust. fauzi ba'ats berangkat bersama tiga orang santri ke tujuan pertama di jadwal kegiatanku hari ini, yaitu melakukan presentasi tentang Pesantren Modern Daarul Uluum di SDN Bojongkulur 03 Gunung Putri Bogor.
Selama perjalanan menuju Bojongkulur, Ustadz Fauzi Baats menambahkan jadwal hari ini dengan menjemput Mataharitimoer dan Istrinya dr. Suharti di Daerah Pondok Kopi Jakarta Timur. "Tepat sekali kita berangkat pagi-pagi" jawabku pada Ust. Fauzi Baats.

Sesampainya di SDN Bojongkulur 03, ku meminta izin kepada Kepala Sekolah agar santri kami diizinkan untuk mengadakan presentasi kepada Siswa kelas 06 di SD yang beliau pimpin, dan dengan senang hati kepala sekolah mempersilahkan santri untuk melakukan presentasi.
Presentasi pun berjalan dengan baik, sehingga antusiasme peserta yang mengikuti kusaksikan sendiri dengan baik. Ternyata program presentasi ini memang benar-benar membuat santri terlihat lebih percaya diri dalam berbicara di depan banyak orang, dan aku anggap tugas pertama pada hari ini berjalan dengan baik dan lancar, sehingga kuakhir presentasi pada hari tersebut dengan meminta izin kepada kepala sekolah dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami.
Sudah ku tandai jadwal pertama di hari ini dan selanjutnya menuju perjalan kedua yaitu mengurus surat izin belajar untuk salah satu santri Pesantren Daarul Uluum yang belajar dari Singapura.
Dengan berbekal keterangan dari imigrasi yang memintaku segera membuat surat izin belajar, agar aku tidak bolak-balik ke kantor Imigrasi.
Sekitar satu jam perjalanan dari daerah bojong kulur aku berangkat menuju Kantor Pusat Kementerian pendidikan Nasional, yang berada di jalan Jenderal Sudirman Senayan jakarta. Sesampainya di sana, aku langsung bergegas ke Sekretariat Jenderal Kementrian dengan mengutarakan maksudku untuk mengurus surat izin belajar dari kementerian pendidkan sebagai salah satu syarat memperoleh Kartu Izin Tingggal Sementara bagi santri Pesantren yang berasal dari singapura. Namun, setelah keinginan ku tersebut ku utarakan, namun pihak sekretariat jenderal tidak bisa mengabulkan permohonanku karena sekolah atau pesantren yang kami kelola bukan di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional.
Tepat jam tujuh pagi aku dan ust. fauzi ba'ats berangkat bersama tiga orang santri ke tujuan pertama di jadwal kegiatanku hari ini, yaitu melakukan presentasi tentang Pesantren Modern Daarul Uluum di SDN Bojongkulur 03 Gunung Putri Bogor.
Selama perjalanan menuju Bojongkulur, Ustadz Fauzi Baats menambahkan jadwal hari ini dengan menjemput Mataharitimoer dan Istrinya dr. Suharti di Daerah Pondok Kopi Jakarta Timur. "Tepat sekali kita berangkat pagi-pagi" jawabku pada Ust. Fauzi Baats.
Sesampainya di SDN Bojongkulur 03, ku meminta izin kepada Kepala Sekolah agar santri kami diizinkan untuk mengadakan presentasi kepada Siswa kelas 06 di SD yang beliau pimpin, dan dengan senang hati kepala sekolah mempersilahkan santri untuk melakukan presentasi.
Presentasi pun berjalan dengan baik, sehingga antusiasme peserta yang mengikuti kusaksikan sendiri dengan baik. Ternyata program presentasi ini memang benar-benar membuat santri terlihat lebih percaya diri dalam berbicara di depan banyak orang, dan aku anggap tugas pertama pada hari ini berjalan dengan baik dan lancar, sehingga kuakhir presentasi pada hari tersebut dengan meminta izin kepada kepala sekolah dan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami.
Sudah ku tandai jadwal pertama di hari ini dan selanjutnya menuju perjalan kedua yaitu mengurus surat izin belajar untuk salah satu santri Pesantren Daarul Uluum yang belajar dari Singapura.
Dengan berbekal keterangan dari imigrasi yang memintaku segera membuat surat izin belajar, agar aku tidak bolak-balik ke kantor Imigrasi.
Sekitar satu jam perjalanan dari daerah bojong kulur aku berangkat menuju Kantor Pusat Kementerian pendidikan Nasional, yang berada di jalan Jenderal Sudirman Senayan jakarta. Sesampainya di sana, aku langsung bergegas ke Sekretariat Jenderal Kementrian dengan mengutarakan maksudku untuk mengurus surat izin belajar dari kementerian pendidkan sebagai salah satu syarat memperoleh Kartu Izin Tingggal Sementara bagi santri Pesantren yang berasal dari singapura. Namun, setelah keinginan ku tersebut ku utarakan, namun pihak sekretariat jenderal tidak bisa mengabulkan permohonanku karena sekolah atau pesantren yang kami kelola bukan di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional.
Padahal sudah kuutarakan semuanya bahwa Kantor keimigrasian Bogor hanya mau menerima surat izin belajar dari kementerian pendidikan nasional bukan dari Departemen Agama.
mengikuti saran staff Setjen KEMENDIKNAS, aku langsung bergegas menuju Kementerian Agama, untuk meneruskan niatku membuat surat keterangan izin belajar bagi santri asing di pesantren.
Sekitar empat puluh menit perjalan ke Kementerian Agama aku tempuh menggunakan mobil dinas pesantren didampingi ustadz Fauzi Baats sebagai good driver yang selalu mengetahui seluk beluk jalan jakarta sekaligus mudah lupa akan pengetahuannya tersebut.
Kutanyakan pada satpam kementerian agama Islam, perihal kentor Ditjen Pendidikan Islam di Kementerian Agama yang menaungi pesantren dan madrasah di Indonesia. Sesampainya di Ruang tata usaha Setjen Pendidikan Islam, yang ku temukan adalah sekumpulan meja yang berserakan di atasnya tumpukan arsip yang dimiliki oleh masing-masing pegawai.
Ku duduk di tengah ruang Tata Usaha Ditjen Pendidikan Islam, sambil menaruh tasku di atas kursi, aku menyapa seorang staff di Tata Usaha sambil menyampaikan maksudku untuk membuat Surat Keterangan Izin Belajar agar santri dari Singapura yang belajar di Pesantren Modern Daarul Uluum bisa mendapatkan visa pelajar.
Lalu, staff tersebut segera mencari berkas yang dibutuhkan dalam membuat surat tersebut, namun tak kunjung dia dapatkan, setelah akhirnya dia mendapatkan secarik kertas yang tertempel di salah satu lemari berkas arsip kantor.
Hmm.... ternyata suatu suasana yang cukup berbeda antara pelayanan administasi di KEMENDIKNAS dengan di KEMENAG, ketika di kemendiknas aku langsung mendapatkan pelayanan dan keterangan yang cukup ditambah brosur dan famplet yang terpampang jelas mengenai syarat pelayanan surat izin belajar.
Namun, di KEMENAG aku mendapati untuk urusan tersebut harus mencopot sebuah pengumuman yang tertempel di lemari arsip kemudian harus ku photo copy.
Dengan perasaan menyesal, aku pun mengikuti apa yang menjadi keinginan mereka untuk melengkapi segala persyaratan yang dibutuhkan dalam mendapatkan surat keterangan izin belajar.
Akhirnya aku pulang dengan tidak membawa hasil yang aku harapkan dalam mendapatkan surat keterangan izin belajar. Birokrasi yang segemuk Kementerian, masih belum bisa mengcover secara efektif dalam mendapatkan Surat Keterangan Izin Belajar.
Semoga perbaikan terus bisa dijalankan oleh pemerintah kita, sehingga segala hal yang rumit apabila bisa dijalankan dengan efektif janganlah dipersulit.
Selasa, 20 April 2010
selangkah demi selangkah
Jum'at 16 April 2010
suasana kota bogor, setelah shalat jum'at diguyur hujan. hal ini membatalkanku untuk berangkat ke kampus menggunakan sepeda motor. Akhirnya dengan niat yang kuat karena akan menemui pembimbing tesisku di kampus, maka aku memutuskan untuk tetap berangkat walaupun harus menggunakan angkutan umum. Dengan suasana hujan, aku melangkahkan kaki ku dari kamar untuk segera berangkat ke kampus. Sepanjang perjalanan menuju terminal, aku memandangi sekeliling jalan kota bogor.
Dengan tenang ku akhirnya menggunakan Bis sebagai moda transportasi menuju kampus, karena walaupun dalam keadaan hujan, aku harus sedikit memaksakan diri berangkat ke kampus.
Sampai di UIN harus menunggu di depan ruang dosen jam setengah empat, walaupun aku datang lebih awal dari yang dijanjikan, ku tak menghubungi pembimbing bahwa aku sudah datang lebih awal dari yang dijanjikan, karena khawatir mengganggu aktivitas beliau.
setelah setengah empat kuhubungi dosen pembimbing serta memberitahukan bahwa aku sudah berada di depan ruangannya setengah jam sebelum waktu yang dijadwalkan. namun, ternyata beliau sedang berada di kampus 2, sehingga ku harus berputar karena kampus 1 dengan kampus 2 berlawanan arah, dengan berlari menuju gerbang utama kampus 1, sehingga aku akan mendapatkan tumpangan tukang ojeg menuju kampus 2.
sesampainya di kampus 2 ternyata dosen masih menguji di ruang sidang sehingga ku harus menunggu sampai setengah lima. Setelah setengah lima sore akhirnya dosen pembimbing pun keluar ruangan sidang dan langsung ku hampiri. namun, ternyata aku harus menunggu beliau rapat hasil sidang dan shalat ashar, setelah menunggu beliau shalat ashar akhirnya baru ku bisa mengeluarkan catatan tesisku pada beliau.
Hanya dengan berkomunikasi dan memberi tanggapan selama lima menit, pembimbingku langsung menyampaikan bahwa aku tinggal melanjutkan ke bab selanjutnya.
Ini lah yang ku maksud selangkah-demi selangkah aku harus menyelesaikan penelitian tesis ku agar aku bisa menyelesaikan studi ku.
setelah menguji...
suasana kota bogor, setelah shalat jum'at diguyur hujan. hal ini membatalkanku untuk berangkat ke kampus menggunakan sepeda motor. Akhirnya dengan niat yang kuat karena akan menemui pembimbing tesisku di kampus, maka aku memutuskan untuk tetap berangkat walaupun harus menggunakan angkutan umum. Dengan suasana hujan, aku melangkahkan kaki ku dari kamar untuk segera berangkat ke kampus. Sepanjang perjalanan menuju terminal, aku memandangi sekeliling jalan kota bogor.
Dengan tenang ku akhirnya menggunakan Bis sebagai moda transportasi menuju kampus, karena walaupun dalam keadaan hujan, aku harus sedikit memaksakan diri berangkat ke kampus.
Sampai di UIN harus menunggu di depan ruang dosen jam setengah empat, walaupun aku datang lebih awal dari yang dijanjikan, ku tak menghubungi pembimbing bahwa aku sudah datang lebih awal dari yang dijanjikan, karena khawatir mengganggu aktivitas beliau.
setelah setengah empat kuhubungi dosen pembimbing serta memberitahukan bahwa aku sudah berada di depan ruangannya setengah jam sebelum waktu yang dijadwalkan. namun, ternyata beliau sedang berada di kampus 2, sehingga ku harus berputar karena kampus 1 dengan kampus 2 berlawanan arah, dengan berlari menuju gerbang utama kampus 1, sehingga aku akan mendapatkan tumpangan tukang ojeg menuju kampus 2.
sesampainya di kampus 2 ternyata dosen masih menguji di ruang sidang sehingga ku harus menunggu sampai setengah lima. Setelah setengah lima sore akhirnya dosen pembimbing pun keluar ruangan sidang dan langsung ku hampiri. namun, ternyata aku harus menunggu beliau rapat hasil sidang dan shalat ashar, setelah menunggu beliau shalat ashar akhirnya baru ku bisa mengeluarkan catatan tesisku pada beliau.
Hanya dengan berkomunikasi dan memberi tanggapan selama lima menit, pembimbingku langsung menyampaikan bahwa aku tinggal melanjutkan ke bab selanjutnya.
Ini lah yang ku maksud selangkah-demi selangkah aku harus menyelesaikan penelitian tesis ku agar aku bisa menyelesaikan studi ku.
setelah menguji...
Langganan:
Postingan (Atom)