Jumat, 07 Desember 2007

Abstrak Skripsi

ABSTRAK SKRIPSI

Analisis Penentuan Portofolio Optimal Untuk Meminimumkan Risiko pada Perusahaan Kelompok Industri Perdagangan Retail di BEJ.

Oleh : Hasbulloh
Disusun pada saat menyelesaikan studi S1 pada Jurusan Manajemen FE Universitas Pakuan Dengan Pembimbing Bapak Chaerudin Manaf, MM., SE., dan Bapak Chaidir, MM., SE.

Investasi merupakan titik awal kesempatan untuk maju, dimana dalam berinvestasi itu setiap investor pasti menginginkan tingkat pengembalian yang besar dan risiko yang kecil. Dalam penelitian ini penulis menganalisis Penentuan Portofolio optimal untuk meminimumkan risiko pada perusahaan kelompok industri perdagangan retail dengan menggunakan single indeks model.

Dalam penulisan skripsi ini objek penelitiannya yaitu saham-saham perusahaan yang bergerak di bidang Industri Perdagangan Retail di Bursa Efek Jakarta.

Masalah yang dihadapi oleh setiap investor saat ini adalah tingkat pengembalian yang kecil dan risiko yang besar sehingga tidak ada kepastian dalam berinvestasi saham karena saham bersifat fluktuatif dan spekulatif.

Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui portofolio saham, dan kemungkinan proporsi alokasi dana. Supaya bisa memutuskan investasinya.

Jenis dan metode penelitian yang dipakai penulis adalah deskriptif eksploratif dengan metode studi kasus mengenai tingkat pengembalian portofolio saham terhadap keputusan investasi. Sedangkan teknik penelitian ini menggunakan statistik kuantitatif yaitu perhitungan dengan menggunakan angka.

Dari hasil penelitian dengan menggunakan metode di atas, Penentuan Portofolio Optimal Pada Perusahaan Kelompok Industri Perdagangan Retail di Bursa Efek Jakarta bisa dijalankan sesuai prosedur dan setelah dilakukan penghitungan atas saham-saham pada kelompok tersebut dihasilkan bahwa yang masuk ke dalam portofolio Optimal ialah saham PT. Alfa Retailindo Tbk. (ALFA) memiliki tingkat pengembalian positif yaitu sebesar 0.014058173 dengan tingkat risiko sebesar 0.143101894 serta Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) memiliki tingkat pengembalian yang positif yaitu 0.010205288 dengan tingkat risiko sebesar 0.090722727 dan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) tingkat pengembaliannya juga positif sebesar 0.007674599 .dengan tingkat risiko sebesar 0.101646985

Sedangkan untuk Meminimumkan Risiko Pada Perusahaan Kelompok Industri Perdagangan di Bursa Efek Jakarta dapat dijalankan dengan diversifikasi atas saham-saham Pada Perusahaan Kelompok Industri Perdagangan di Bursa Efek Jakarta maka dilakukan diversifikasi dengan hasil proporsi dana RALS dengan proporsi dana sebesar 46 % saham MAPI sebesar 36 % saham ALFA sebesar 17 %. Hal ini diartikan bahwa apabila investor ingin menginvestasikan sahamnya pada kelompok industri perdagangan maka untuk meminimkan risiko maka proporsi dananya ditentukan dengan komposisi di atas.

Sehingga penulis simpulkan, Analisis Penentuan Portofolio Optimal Untuk Meminimumkan Risiko Pada Perusahaan Kelompok Industri Perdagangan Retail di Bursa Efek Jakarta dapat dilakukan dengan single indeks model, karena model ini berusaha menyederhanakan analisis portofolio serta prosedur analisis yang tersedia dan runut dalam menentukan portofolio optimal.
Attachment: BAB III.rtf
Attachment: BAB I.rtf
Attachment: BAB II.rtf

Abstrak Skripsi

ABSTRAK SKRIPSI

Analisis Penentuan Portofolio Optimal Untuk Meminimumkan Risiko pada Perusahaan Kelompok Industri Perdagangan Retail di BEJ.

Oleh : Hasbulloh
Disusun pada saat menyelesaikan studi S1 pada Jurusan Manajemen FE Universitas Pakuan Dengan Pembimbing Bapak Chaerudin Manaf, MM., SE., dan Bapak Chaidir, MM., SE.

Investasi merupakan titik awal kesempatan untuk maju, dimana dalam berinvestasi itu setiap investor pasti menginginkan tingkat pengembalian yang besar dan risiko yang kecil. Dalam penelitian ini penulis menganalisis Penentuan Portofolio optimal untuk meminimumkan risiko pada perusahaan kelompok industri perdagangan retail dengan menggunakan single indeks model.

Dalam penulisan skripsi ini objek penelitiannya yaitu saham-saham perusahaan yang bergerak di bidang Industri Perdagangan Retail di Bursa Efek Jakarta.

Masalah yang dihadapi oleh setiap investor saat ini adalah tingkat pengembalian yang kecil dan risiko yang besar sehingga tidak ada kepastian dalam berinvestasi saham karena saham bersifat fluktuatif dan spekulatif.

Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengetahui portofolio saham, dan kemungkinan proporsi alokasi dana. Supaya bisa memutuskan investasinya.

Jenis dan metode penelitian yang dipakai penulis adalah deskriptif eksploratif dengan metode studi kasus mengenai tingkat pengembalian portofolio saham terhadap keputusan investasi. Sedangkan teknik penelitian ini menggunakan statistik kuantitatif yaitu perhitungan dengan menggunakan angka.

Dari hasil penelitian dengan menggunakan metode di atas, Penentuan Portofolio Optimal Pada Perusahaan Kelompok Industri Perdagangan Retail di Bursa Efek Jakarta bisa dijalankan sesuai prosedur dan setelah dilakukan penghitungan atas saham-saham pada kelompok tersebut dihasilkan bahwa yang masuk ke dalam portofolio Optimal ialah saham PT. Alfa Retailindo Tbk. (ALFA) memiliki tingkat pengembalian positif yaitu sebesar 0.014058173 dengan tingkat risiko sebesar 0.143101894 serta Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) memiliki tingkat pengembalian yang positif yaitu 0.010205288 dengan tingkat risiko sebesar 0.090722727 dan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) tingkat pengembaliannya juga positif sebesar 0.007674599 .dengan tingkat risiko sebesar 0.101646985

Sedangkan untuk Meminimumkan Risiko Pada Perusahaan Kelompok Industri Perdagangan di Bursa Efek Jakarta dapat dijalankan dengan diversifikasi atas saham-saham Pada Perusahaan Kelompok Industri Perdagangan di Bursa Efek Jakarta maka dilakukan diversifikasi dengan hasil proporsi dana RALS dengan proporsi dana sebesar 46 % saham MAPI sebesar 36 % saham ALFA sebesar 17 %. Hal ini diartikan bahwa apabila investor ingin menginvestasikan sahamnya pada kelompok industri perdagangan maka untuk meminimkan risiko maka proporsi dananya ditentukan dengan komposisi di atas.

Sehingga penulis simpulkan, Analisis Penentuan Portofolio Optimal Untuk Meminimumkan Risiko Pada Perusahaan Kelompok Industri Perdagangan Retail di Bursa Efek Jakarta dapat dilakukan dengan single indeks model, karena model ini berusaha menyederhanakan analisis portofolio serta prosedur analisis yang tersedia dan runut dalam menentukan portofolio optimal.

Kamis, 06 Desember 2007

Senin, 03 Desember 2007

Masa Remaja adalah Masa Berkarya

Masa Remaja adalah masa berkarya
Oleh : Hasbulloh
(disampaikan pada silaturrahmi Himpunan Mahasiswa Manajemen dengan keluarga besar Panti Asuhan Assaidah di Kedung Halang Bogor pada tanggal 02 Desember 2007)


PENDAHULUAN

Saudaraku sekalian, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua, tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi si remaja sendiri, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orangtua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan perbedaan. Orangtua para remaja hendaknya justru menjadi pemberi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala tindak tanduk si remaja.

MASA REMAJA
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.

Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memahami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut.

REMAJA DAN KARYA
Bagi remaja, berkarya harus dijadikan satu tradisi, kebiasaan dan kelaziman. Ada banyak jenis kegiatan berkarya bisa dilakukan oleh remaja. Remaja harus membiasakan diri dengan melakukan latihan mencatat. Namun catatan harus dikembangkan lagi supaya bukan hanya mencatat tentang orang tetapi lebih dituntut ialah memikirkan idea sendiri. Di sinilah kegiatan berkarya itu lahir.

Pertama, remaja harus rajin membaca, bergaul dan berkomunikasi dengan orang atau pihak lain. Melanjutkan pembacaan, pergaulan dan perhubungan banyak ilham dan isi-isi karya boleh diketengahkan. Para remaja harus memiliki sifat peka, sensitif, keinginan ambil tahu dan perspektif terhadap area sekitarnya, analisis terhadap apa yang terjadi dan berjiwa kritis terhadap pandangan dan pendapat. Cara begini menjadikan pemikiran berkembang dan kematangan berfikir berlaku.

Kedua, remaja harus menjadi seorang pendengar yang tekun dan pencatat yang baik. Kita sering mendengar orang berceramah tetapi jarang di kalangan remaja mengambil catatan, nota atau isi-isi penting. Biasanya kita hanya mendengar begitu saja. Jadikan suatu kegiatan bila kita mendengar ceramah, kita bawa catatan untuk menulis apa yang diceramahkan.

Mungkin materi yang disampaikan oleh pembicara merupakan sesuatu yang baru. Remaja harus mengolah dan menulisnya yang awalnya hanya dalam bentuk yang berlainan supaya apabila diterbitkan atau di sampaikan akan memberi manfaat kepada orang lain. Orang-orang Barat amat senang membuat catatan, Tradisi ini amat berguna menjadikan mereka catatan zaman dan peristiwa untuk dianalisis, direnung dan dipelajari oleh generasi mendatang.

Ketiga, para remaja yang memiliki bakat sebagai penulis kreatif, pelukis, penggubah maupun tulisan yang bukan kreatif harus menjadikan berkarya sebagai penyaluran bakatnya.

Karya-karya yang baik dan berkualiti bisa memberikan ilmu, maklumat, pengalaman dan teladan malah ilham kepada remaja menghasilkan karya-karya yang bermutu dan sekaligus dapat menyampaikan risalah tertentu dalam karyanya supaya pembaca dapat menikmati perspektif yang ingin dibawanya.

Alam yang luas ini adalah sumber yang maha kaya bagi remaja untuk berfikir, mengolah pemikiran dan menghasilkan karya. Alam ini dengan segala isi, peristiwa dan kejadiannya memberikan iktibar yang banyak. Para remaja yang mempunyai daya kreatif yang tinggi bisa mengolahnya dalam bahasa dan sastera yang indah, dalam lukisan dan candaan yang menarik, dalam lirik puisi dan lagu yang memikat dengan maksud bahawa sesuatu yang dihasilkan itu semuanya mempunyai hikmah yang tersendiri di kalangan mereka yang mau berfikir.

Waktu membaca judul di atas, apa yang kalian pikirkan pertama kali? Bekerja? Melakukan sesuatu untuk menghasilkan uang?

Berkarya bisa dimulai sedini mungkin. Berkarya tidak hanya untuk orang dewasa. Remaja seperti kita pun sudah dapat belajar untuk berkarya. Contohnya, pelajar SMA yang berhasil dalam Olimpiade Internasional, band anak muda, remaja yang membuat karya yang dapat dikonsumsi seperti tas, kalung, pakaian; intinya dapat menghasilkan sesuatu, berupa uang atau nama baik dan predikat.

Ada baiknya kita melihat kesuksesan para remaja yang berkarya di negara lain. India, misalnya. Para remajanya mencetak prestasi dalam bidang perfilman. Mereka menghasilkan 877 film dan 1.177 film pendek tahun 2003. Hebatnya, film India diperkirakan menarik penonton sebanyak 3,6 miliar orang per tahun, atau satu miliar orang lebih banyak dari film produksi Hollywood.

Kehadiran bakat generasi muda semakin mengangkat nama Indonesia yang sering mendapat predikat negatif. Banyak remaja Indonesia turut mengharumkan nama bangsa di mata internasional dengan prestasi yang didapatnya, seperti Masruri yang telah menjuarai lomba catur tingkat ASEAN tahun 2007 dan termasuk 10 besar pecatur cilik dunia.

Intinya berkarya yang baik adalah di mana karya tersebut dapat membantu orang lain dan bisa membuat diri menjadi lebih berkembang. Berkarya tidak selalu menghasilkan uang. Berkarya pada usia muda sebaiknya lebih merujuk pada tujuan untuk menambah wawasan dan mengembangkan diri.


Keuntungan:
  1. Mengembangkan minat dan bakat melalui karya yang dibuat.
  2. Memperluas relasi dan dikenal banyak orang.
  3. Menambah nilai-nilai kehidupan selama berkarya seperti mengenal macam- macam pribadi  orang, kerja sama, dan lainnya.
  4. Menambah pengalaman yang menjadikan kita lebih matang, seperti kata pepatah      "Experience is the best teacher ever!"
  5. Karya yang bersifat komersil akan menambah uang jajan, syukur-syukur dapat dijadikan penghasilan.
  6. Dengan bermodalkan relasi dan prestasi yang banyak, mempermudah kita mendapatkanlowongan kerja.
Kerugian:
  1.  Terlalu sibuk berkarya akan mengganggu kegiatan-kegiatan yang lain.
  2. Apabila manajemen waktu buruk, akan memengaruhi prestasi belajar sehingga dapat menurun.
  3. Tidak menutup kemungkinan selama berkarya akan masuk pengaruh- pengaruh negatif, seperti menjadi malas sekolah karena merasa sudah hebat atau sudah dapat mencari uang sendiri.
  4. Mayoritas, kesuksesan dalam berkarya baik secara langsung maupun tak langsung akan menyebabkan kita terbuai dalam kesenangan semata sehingga kita cenderung lupa akan tugas pokok kita, yaitu belajar.

PENUTUP
Sesungguhnya memang diri sendiri itulah pelindung bagi diri sendiri. Suka dan duka yang kita alami adalah hasil perbuatan kita sendiri. Sebab, oleh diri sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri pula kejahatan dapat dihindarkan. Oleh karena itumembiasakan diri untuk berkarya diharapkan anak akan dapat membawa diri dan menjaga dirinya sendiri agar dapat tercapai kebahagiaan. Kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Kebahagiaan bagi orangtuanya. Kebahagiaan bagi lingkungannya.

Masa Remaja adalah Masa Berkarya

Masa Remaja adalah masa berkarya
Oleh : Hasbulloh
(disampaikan pada silaturrahmi Himpunan Mahasiswa Manajemen dengan keluarga besar Panti Asuhan Assaidah di Kedung Halang Bogor pada tanggal 02 Desember 2007)


PENDAHULUAN

Saudaraku sekalian, masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua, tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi si remaja sendiri, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orangtua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan perbedaan. Orangtua para remaja hendaknya justru menjadi pemberi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala tindak tanduk si remaja.

MASA REMAJA
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.

Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.

Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memahami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut.

REMAJA DAN KARYA
Bagi remaja, berkarya harus dijadikan satu tradisi, kebiasaan dan kelaziman. Ada banyak jenis kegiatan berkarya bisa dilakukan oleh remaja. Remaja harus membiasakan diri dengan melakukan latihan mencatat. Namun catatan harus dikembangkan lagi supaya bukan hanya mencatat tentang orang tetapi lebih dituntut ialah memikirkan idea sendiri. Di sinilah kegiatan berkarya itu lahir.

Pertama, remaja harus rajin membaca, bergaul dan berkomunikasi dengan orang atau pihak lain. Melanjutkan pembacaan, pergaulan dan perhubungan banyak ilham dan isi-isi karya boleh diketengahkan. Para remaja harus memiliki sifat peka, sensitif, keinginan ambil tahu dan perspektif terhadap area sekitarnya, analisis terhadap apa yang terjadi dan berjiwa kritis terhadap pandangan dan pendapat. Cara begini menjadikan pemikiran berkembang dan kematangan berfikir berlaku.

Kedua, remaja harus menjadi seorang pendengar yang tekun dan pencatat yang baik. Kita sering mendengar orang berceramah tetapi jarang di kalangan remaja mengambil catatan, nota atau isi-isi penting. Biasanya kita hanya mendengar begitu saja. Jadikan suatu kegiatan bila kita mendengar ceramah, kita bawa catatan untuk menulis apa yang diceramahkan.

Mungkin materi yang disampaikan oleh pembicara merupakan sesuatu yang baru. Remaja harus mengolah dan menulisnya yang awalnya hanya dalam bentuk yang berlainan supaya apabila diterbitkan atau di sampaikan akan memberi manfaat kepada orang lain. Orang-orang Barat amat senang membuat catatan, Tradisi ini amat berguna menjadikan mereka catatan zaman dan peristiwa untuk dianalisis, direnung dan dipelajari oleh generasi mendatang.

Ketiga, para remaja yang memiliki bakat sebagai penulis kreatif, pelukis, penggubah maupun tulisan yang bukan kreatif harus menjadikan berkarya sebagai penyaluran bakatnya.

Karya-karya yang baik dan berkualiti bisa memberikan ilmu, maklumat, pengalaman dan teladan malah ilham kepada remaja menghasilkan karya-karya yang bermutu dan sekaligus dapat menyampaikan risalah tertentu dalam karyanya supaya pembaca dapat menikmati perspektif yang ingin dibawanya.

Alam yang luas ini adalah sumber yang maha kaya bagi remaja untuk berfikir, mengolah pemikiran dan menghasilkan karya. Alam ini dengan segala isi, peristiwa dan kejadiannya memberikan iktibar yang banyak. Para remaja yang mempunyai daya kreatif yang tinggi bisa mengolahnya dalam bahasa dan sastera yang indah, dalam lukisan dan candaan yang menarik, dalam lirik puisi dan lagu yang memikat dengan maksud bahawa sesuatu yang dihasilkan itu semuanya mempunyai hikmah yang tersendiri di kalangan mereka yang mau berfikir.

Waktu membaca judul di atas, apa yang kalian pikirkan pertama kali? Bekerja? Melakukan sesuatu untuk menghasilkan uang?

Berkarya bisa dimulai sedini mungkin. Berkarya tidak hanya untuk orang dewasa. Remaja seperti kita pun sudah dapat belajar untuk berkarya. Contohnya, pelajar SMA yang berhasil dalam Olimpiade Internasional, band anak muda, remaja yang membuat karya yang dapat dikonsumsi seperti tas, kalung, pakaian; intinya dapat menghasilkan sesuatu, berupa uang atau nama baik dan predikat.

Ada baiknya kita melihat kesuksesan para remaja yang berkarya di negara lain. India, misalnya. Para remajanya mencetak prestasi dalam bidang perfilman. Mereka menghasilkan 877 film dan 1.177 film pendek tahun 2003. Hebatnya, film India diperkirakan menarik penonton sebanyak 3,6 miliar orang per tahun, atau satu miliar orang lebih banyak dari film produksi Hollywood.

Kehadiran bakat generasi muda semakin mengangkat nama Indonesia yang sering mendapat predikat negatif. Banyak remaja Indonesia turut mengharumkan nama bangsa di mata internasional dengan prestasi yang didapatnya, seperti Masruri yang telah menjuarai lomba catur tingkat ASEAN tahun 2007 dan termasuk 10 besar pecatur cilik dunia.

Intinya berkarya yang baik adalah di mana karya tersebut dapat membantu orang lain dan bisa membuat diri menjadi lebih berkembang. Berkarya tidak selalu menghasilkan uang. Berkarya pada usia muda sebaiknya lebih merujuk pada tujuan untuk menambah wawasan dan mengembangkan diri.


Keuntungan:
  1. Mengembangkan minat dan bakat melalui karya yang dibuat.
  2. Memperluas relasi dan dikenal banyak orang.
  3. Menambah nilai-nilai kehidupan selama berkarya seperti mengenal macam- macam pribadi  orang, kerja sama, dan lainnya.
  4. Menambah pengalaman yang menjadikan kita lebih matang, seperti kata pepatah      "Experience is the best teacher ever!"
  5. Karya yang bersifat komersil akan menambah uang jajan, syukur-syukur dapat dijadikan penghasilan.
  6. Dengan bermodalkan relasi dan prestasi yang banyak, mempermudah kita mendapatkanlowongan kerja.
Kerugian:
  1.  Terlalu sibuk berkarya akan mengganggu kegiatan-kegiatan yang lain.
  2. Apabila manajemen waktu buruk, akan memengaruhi prestasi belajar sehingga dapat menurun.
  3. Tidak menutup kemungkinan selama berkarya akan masuk pengaruh- pengaruh negatif, seperti menjadi malas sekolah karena merasa sudah hebat atau sudah dapat mencari uang sendiri.
  4. Mayoritas, kesuksesan dalam berkarya baik secara langsung maupun tak langsung akan menyebabkan kita terbuai dalam kesenangan semata sehingga kita cenderung lupa akan tugas pokok kita, yaitu belajar.

PENUTUP
Sesungguhnya memang diri sendiri itulah pelindung bagi diri sendiri. Suka dan duka yang kita alami adalah hasil perbuatan kita sendiri. Sebab, oleh diri sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri pula kejahatan dapat dihindarkan. Oleh karena itumembiasakan diri untuk berkarya diharapkan anak akan dapat membawa diri dan menjaga dirinya sendiri agar dapat tercapai kebahagiaan. Kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Kebahagiaan bagi orangtuanya. Kebahagiaan bagi lingkungannya.

Senin, 05 November 2007

Pembangunan mall dan rakyat kecil

PEMBANGUNAN MALL DAN RAKYAT KECIL
(Opini terhadap pembangunan mall di Bogor)
Oleh : Hasbulloh

Sungguh sangat menarik pernyataan dari Dr. Adi Sasono yang berbunyi “pembangunan artinya penggusuran orang kecil” ini penulis catat dari pernyataan beliau pada saat mengikuti Seminar Nasional UMKMK 2006 di Univ. Nusa Bangsa Bogor. Memang kalau kita mengamati secara seksama pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan pihak pengembang dari sekian permasalahannya pasti selalu bersinggungan dengan rakyat kecil, baik sebagai pedagan tradisional, pemilik lahan maupun para penghuni yang dengan seenaknya mereka gusur.
Dalam hal ini penulis menyoroti arah kebijakan pembangunan di Bogor, terutama pembanguan mall dan pusat perbelanjaan yang smemakin marak. Setelah sekian tahun penulis tinggal di Bogor, ternyata telah banyak sekali perubahan yang dianggap sebagai pembangunan padahal merupakan penggusuran rakyat kecil.

Perkembangan Pembangunan Mall
Pada beberapa dekade terakhir, Bogor mengalami pertumbuhan yang pesat, selain menjadi penyangga Ibu Kota, secara historis Bogor telah menjadi menjadi tujuan wisata yang sejuk, nyaman dan indah dibandingkan dengan kota-kota lainnya itu karena adanya Kebun Raya Bogor, kawasan wisata puncak, Taman Safari Indonesia, dll. Selain tempat rekreasi, juga merupakan sentra penelitian bagi para ilmuwan lokal maupun manca Negara, terlihat dengan adanay pusat-pusat penelitian dan museum. Perkembangan akhir ini, dibangunnya pusat perdagangan dan perbelanjaan yang berkonsep mall atau plaza bahkan hypermarket. Hal ini terlihat dengan dibangunnya beberapa mall yang berskala besar sepanjang jalan protokol seperti, Ekaloka sari, Bogor Trade Mall (BTM) dan dalam tahap penyelesaian yaitu Bogor City Ceneter (BCC) dll.. Dari berbagai permasalahan pembangunan mall, tentu ada beberapa hal menarik yang memerlukan perhatian, setidaknya menjadi perhatian penulis. Pembangunan Bogor Trade Mall mislanya, yang sebelumnya merupakan sentra pasar tradisional dan pusat pencaharian masyarakat asli Bogor, ternyata para pedagang dengan serta merta dipindahkan ke tempat pinggiran yang belum tentu orang mau untuk berbelanja ke tempat itu karena tempatnya yang kurang strategis. Kemudian Pembangunan Bogor City Cenetr (BCC) mungkin visinya menjadi mall terdepan di Kota Bogor, karena memang letak yang paling depan dan dekat dengan terminal Baranang Siang dan Kebun Raya Bogor. Padahal pembangunan dan perluasan BCC ini melanggar Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Bogor, karena di dalam RTRW bahwa area yang dipakai perluasan BCC itu diperuntukkan sebagai sarana pendidikan dan bukan sebagai sarana bisnis.
Banyaknya pusat perbelanjaan memberikan alternatif yang lebih banyak bagi masyarakat dalam berbelanja ataupun berdagang. Namun, berbagai persoalan pun kemudian muncul. Apakah dengan dibangunnya mall memberikan kesempatan kepada pedagang lokal ataupun masyarakat pribumi yang notabene rakyat kecil untuk mendapatkan lahan berdagang yang lebih baik? Apakah benar kemacetan selalu diidentikkan dengan ketidakdisiplinan sopir angkot? Apakah perkembangan pusta-pusat perbelanjaan tersebut konsisten dengan daya dukung kota dan daya beli masyarakat bogor?

Akibatnya Pada Pasar Tradisional.
Banyaknya pembangunan mall perlu diimbangi dengan perlindungan pemerintah kepada para pedagang pasar tradisional. Sebab, pedagang kecil semakin terancam oleh mall, karena mereka (mall) menawarkan barang kebutuhan dengan cara ritel dengan harga murah juga lengkap dengan banyak varian. Selain itu, suasana nyaman dan bersih tentu saja menggeser minat orang terhadap pasar tradisional yang becek (wet market) dan pengap. Oleh karena itu, perlu penguatan dan perlindungan terhadap aktivitas niaga perdagangan kecil pasar tradisional
Pengusaha-pengusaha kecil termasuk home industry harus berpontang-panting bersaing dengan produk luar negeri yang banyak dijajakan di mall. Lama kelamaan, usaha ini akan kembang kempis dan akan hancur. Rakyat kecil (PKL, pedagang asongan, pengamen, dll) akan mulai tersingkirkan.
Selain permasalahan mata pencaharian tersebut, dari segi budaya, dengan adanya pengembangan mall dan tergusurnya pasar tradisional, maka terkikisnya budaya lokal yaitu hubungan sosial berupa relasi antar manusia ; antar penjual dan pembeli. Hubungan sperti ini tidak terjadi di mall, yang terjadi hanyalah hubungan yang sifatnya ekonomis dan komersil sehingga melahirkan relasi manusia yang anonym.
Bertambahnya titik Kemacetan
Sudah menjadi “slogan” bahwa kota Bogor adalah kota termacet dan kota sejuta angkot, tentunya kaitannya dengan pembangunan mall, maka tempat-tempat pemberhentian angkot akan semakin bertambah.
Kemacetan jangan selalu diidentikkan dengan ketidakdisiplinan sopir angkot, sebenarnya titik-titik pemberhentian yang terlalu banyak tanpa dipertimbangkan jaraknya dengan adanya pembangunan mall, maka ini akan menambah intensitas kemacetan. Contohnya depan mall ekalokasari (sukasari), sentra tas (tajur), Pasar Bogor yang berdekatan dengan pintu masuk utama kebun raya, BTM yang berdekatan dengan transit angkot, BCC yang belum rampung hanya berjarak beberapa meter dengan terminal baranang siang dan pintu masuk Kebun Raya.
Pembenahan masalah transportasi sangat berkaitan erat dengan kenyamanan masyarakat, baik para pengunjung mall maupun pengguna jalan secara umum.

Berkurangnya Fasilitas Publik.
Aapabila pembangunan itu dilakukan pada fasilitas yang biasanya dipakai untuk publik, maka tentunya akan mengurangi keberadaan fasilitas publik yang sudah bertahun-rahun dipergunakan. Dan ini jangan sampai hanya didasarkan pada permasalahan bisnis semata.
Banyak mall yang didirikan di lahan hijau ataupun fasilitas publik yang hijau bahkan yang seharusnya diperuntukkan sebagai wilayah atau saran pendidikan dirubah menjadi mall. Sehingga melahirkan dampak ekologis dan sosiologis bahkan tidak ramah lingkungan terlebih lagi seharusnya ada konversi lahan hijau untuk mengganti lahan yang digunakan sebagai bangunan mall.

Perbandingan Dengan Daya Beli Masyarakat.
Kalau pembangunan mall dan pusat-pusat perbelanjaan dibangun hanya atas dasar bisnis dan kepentingan ekonomi sesaat tanpa memperhatikan kesejahteraan masyarakat setempat, tentunya ini sudah secara tidak langsung meminggirkan masyarakat setempat Karen tidak mampu membeli barang-barang yang dijajakan oleh mall yang notabene harganya tinggi dan tidak terjangkau oleh masayarakat setempat.

Kebijakan dan Kontrol Yang Tidak Ketat.
Dari permasalahan di atas, sebenarnya ada titik sentral yang memang secara langsung bertanggungjawab atas permasalahan tersebut yaitu pemerintah Daerah, karena pemkot memiliki peran dan kewenangan dalam memberikan perizinan, oleh karena itu pemkot harus melakukan suatu tindakan yang bisa menimbulkan sinergi untuk perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Jangan sampai menjamurnya mall-mall hanya sekedar menjadi monument tanpa sejarah. bahkan monument yang bersejarah pun tak diurus dan terbengkalai.
Dalam pembangunan kota harus dibuat suatu tata aturan yang paten untuk jangka waktu lama dan hal tersebut harus benar-benar ditaati oleh para pemegang kebijakan di pemkot, jangan hanya karena tawaran finansial yang kesejahteraannya belum tentu dinikmati oleh masyarakat setempat dengan serta merta diambil sebagai sebuah proyek pembangunan. Secara tidak langsung, pemerintah menekan terhadap system ekonomi kerakyatan. Dan mengembangkan kapitalisasi pada perekonomian rakyat.
Selain pemerintah daerah yang seakan tidak konsisten menjalankan konsep tata kota yang telah digariskan sebelumnya, kurangnya kontrol dari para wakil rakyat yang seharusnya membela kepentingan rakyat seharusnya menjadi sorotan. Dari berbagai permasalah pembangunan yang keluar dari jalur Rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) terlihat dibiarkan.
Perlu diingat bahwa ukuran kemajuan suatu kota tidak bisa diukur hanya melalui banyaknya bangunan fisik. Kemajuan suatu kota ditentukan oleh masyarakatnya yang berpola fakir mapan, egaliter dan madani, makanya rasio pembangunan fisik harus selaras dengan ruang hijau terbuka yang sangat dibutuhkan masyarakat. Tidak perlu terlalu banyak mall dan pusat perbelanjaan kalau memang akhirnya menimbulkan berbagai macam permasalahan jangka panjang. Jangan sampai manusia-manusia pembangunan sekarang tergila-gila dengan bangunan-bangunan mewah, mulai dari mall, pusat perbelanjaan ataupun lainnya.